Yang Mana Temanku

Seminggu telah berlalu kecuali hari minggu, Di malam minggu Seperti biasa aku dan temanku nongkrong di pos ronda dan ngomongin ngomongin yang gak penting sebenarnya.

Aku dan temanku hanya bertiga mungkin yang lain sedang sibuk dirumah sedang menonton bola atau apalah. Temanku bernama Bimo dan Ilham.

“Masa malam minggu sepii banget kayak di rumah hantu aja” Kata bimo “Yaaa begini keadaanya mau gimana lagi”. Suatu saat, “eh gua pengen beli p*p Ice dulu di warung belakang” Kata ilham. Ya, seperti biasa dia main futsal mulu tadi mana bajunya belum diganti lagi sampai ingin beli minum kayaknya kehausan.

Aku dan bimo berbincang bincang sebentar tetapi lama lama cukup lama, “Eh Kayaknya perasaan gua kurang enak” Kataku “Masa sih? Gua juga kayaknya ilham dari tadi belum pulang pulang”. Lalu tanpa berpikir panjang aku dan Bimo segera menyusurinya di warung belakang tiba tiba “Hah mana ilham mungkin udah pulang tapi dari tadi kita di pos”Tanyaku “Gak Tahu”.

Tiba Tiba aku melihat orang yang mirip sekali dengan ilham di lapangan yang memang tidak jauh dari warung dia sendirian, ya sendirian, bajunnya mirip sekali dengan ilham baju futsal. Lalu aku dan bimo neriakin ilham “WOI ILHAM NGAPAIN LU DISITU”Tanya aku dan Bimo
Tiba tiba ada mobil Ambulance lewat jalan pinggir lapangan aku dan bimo mulai merinding. Tanpa disangka sangka setelah ambulance lewat ternyata ilham menghilang begitu saja “HAAAAH” kata ku teriak. Tiba tiba “Eh ngapain lu berdua ngeliatin lapangan mulu” Tanya ilham yang ternyata ada di belakang kita “AM, lu tadi ngapain di tengah lapangan sendirian”Tanya bimo “Kok Tanya balik dari tadi gw nyariin lu di pos gak ada trus gw ke wc aja dulu karna ingin b*ker” jawab ilham “Hah Jadi itu siapa dan kenapa ada ambulan di bawah tadi”.

Tiba tiba, Ada ambulan lagi lewat jalan pinggir lapangan tanpa disangka sangka orang itu terlihat lagi dan “AGGGGHHH….Apa itu” kami bertiga lari ngibrit kembali ke pos ronda dan “hah hah apaan tuh capek gua” napasku tersengal sengal “Kita telusri saja besok”.

Esoknya. Ternyata kata orang setempat lapangan itu penuh dengan hantu dan dipinggir lapangan ada rumah hantu yang diyakini sebagai sarang hantu. Kejadia itu membuat kami mengambil hikmahnya yaitu jangan meninggalkan teman sendirian.

Penunggu Gentong Air



Saat saya ke Surabaya sampai larut malam. Karena tak ada bus untuk pulang, maka teman saya menawarkan rumahnya di Sidoarjo untuk menginap.

Teman saya ini bernama Heni. Dia sudah beberapa tahun lebih tua dari saya dan katanya sih bisa melihat penampakan. Namun jujur saja, saya tak percaya walau saya 'iya-iya' saja kalau diceritai seputar hal tersebut.

Saya malam itu sedang sedikit galau. Hari itu saya ke Surabaya untuk bertemu kenalan, namun apa daya tidak bisa lama-lama karena dia ada urusan. Saya menyalakan ponsel untuk chatting dengan teman-teman saya via Messenger.

Saya sudah sikat gigi dan cuci muka. Surabaya dan Sidoarjo itu begitu panas meski malam hari tiba. Jadi kamar tidur teman saya selalu dibuka jendelanya dan hanya terlindung dengan kasa nyamuk. Kebetulan kamar itu berada di lantai dua. Kipas angin juga sudah dinyalakan, tapi panasnya masih saja membuat tidak nyaman.

Tiba-tiba saat mau tidur, Mbak Heni mematikan lampunya. Namun tetap menyalakan televisi. Ia kemudian berkata kepada saya, "Dek, nanti kalau ada yang ketok-ketok di tangki jangan takut ya. Itu Pak Gentong."

Saya sambil masih berkutat dengan hape bertanya, "Pak Gentong siapa mbak?"

"Yang nungguin tangki air sebelah," jawabnya sambil menyisir rambut.

"Ooh, tetangga?" tanya saya lagi.

"Ya bukan. Itu yang menunggu di sini," jawabnya polos.

Saya terkejut, tapi karena mbah-mbah di museum kereta Jogja mengatakan bahwa saya ini orangnya tidak peka sama yang begituan, jadi saya menenangkan diri. Paling juga bohong atau saya yang tak kerasa.

Menjelang tengah malam, saya dan Mbak Heni masih ngobrol, namun sayup-sayup Mbak Heni mulai tidur. Saya masih chatting dengan teman saya di ponsel. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.50.

"Tong..tong...tong..tong.." Sebuah bunyi membuat saya terhenyak. "Tong...tong...tong..tong.." Bunyinya pelan tapi terdengar dan seperti orang mengetuk pintu. Namun ini tangki air yang diketuk.

Saya mulai merinding. Mbak Heni sudah tidur dan saya tidur paling dekat dengan jendela. Jendela ini berdekatan pula dengan tangki. Saya takut kalau-kalau dari balik kasa nyamuk jendela muncul sesuatu. Akhirnya saya pergi tidur.

Ah sial, saya tidak bisa segera tidur. Saya berusaha memejamkan mata dan baru bisa terlelap sekitar lepas pukul satu. Saya ingat ketukan itu berlanjut 2 kali setelah saya merinding. Keesokan harinya, saya bertanya.

"Mbak Hen, kenapa sih Pak Gentong ketuk-ketuk tangki?"

"Oh semalem kedengeran ya?"

"Iya, Mbak. Aku sampe merinding, mau bangunin Mbak Heni nggak berani."

"Pak Gentong tiap jam segitu permisi mau patroli di sini. Dia memang yang njaga lingkungan sekitar sini. Jadi nggak usah takut," ujarnya.

Saya manggut-manggut. Namun saya tetap merinding ingat kejadian semalam. Saya tak lagi remeh terhadap makhluk halus. Siapa bilang orang tak 'peka' tak bisa melihat atau merasakan hantu? Dulu saya tak percaya akan hantu, kini saya percaya hantu itu ada.